Mendapat tawaran kerja baru memang menyenangkan, tapi momen berpamitan sering bikin deg-degan. Kamu takut atasan marah, takut dibilang tidak loyal, atau bingung harus mulai dari mana. Kabar baiknya, cara resign yang baik sebenarnya bisa dipelajari dan dipraktikkan siapa saja, baik fresh graduate yang baru pindah dari kerja pertama maupun karyawan senior.
Sebagai mentor, saya selalu bilang: kamu akan dikenang bukan dari hari pertama masuk, tapi dari bagaimana kamu keluar. Yuk, kita bahas langkahnya satu per satu.
Kenapa Cara Resign yang Baik Itu Penting
Dunia kerja di Indonesia itu sempit. Atasan lamamu bisa jadi kenal dengan HRD di perusahaan barumu, apalagi kalau kamu bekerja di industri yang itu-itu saja. Proses reference check juga masih sering dilakukan, termasuk oleh perusahaan besar dan BUMN.
Resign yang rapi memberi kamu beberapa keuntungan:
- Reputasi tetap bersih dan pintu kembali tetap terbuka.
- Hak-hakmu seperti gaji terakhir, sisa cuti, dan surat keterangan kerja (paklaring) diproses tanpa hambatan.
- Kamu punya referensi positif untuk lamaran berikutnya di Jobstreet, LinkedIn, Glints, atau Kalibrr.
- Hubunganmu dengan rekan kerja tetap hangat, dan koneksi itu berharga untuk jangka panjang.
Sebelum Mengajukan Resign: Cek Dulu 5 Hal Ini
Jangan buru-buru mengetik surat. Pastikan dulu hal-hal berikut:
- Tawaran baru sudah pasti. Idealnya kamu sudah memegang offer letter yang ditandatangani, bukan hanya janji lisan.
- Baca kontrak kerja. Perhatikan aturan masa pemberitahuan (notice period), ikatan dinas, atau denda jika berhenti sebelum kontrak habis. Pada umumnya, pengunduran diri diajukan secara tertulis sekitar 30 hari sebelum hari terakhir, tapi selalu cek kontrak dan peraturan perusahaanmu.
- Hitung hak yang tersisa. Misalnya sisa cuti, THR yang mendekati jatuh tempo, atau bonus. Tanyakan ke HRD bagaimana ketentuannya jika kamu keluar.
- Tentukan tanggal terakhir kerja. Diskusikan dengan perusahaan baru kapan kamu bisa mulai agar tidak bentrok dengan masa notice.
- Jaga kerahasiaan. Jangan cerita ke rekan kerja sebelum atasan langsung tahu. Kabar menyebar lebih cepat dari yang kamu kira.
Langkah Cara Resign yang Baik, dari Bicara sampai Pamit
1. Bicara langsung dengan atasan
Atasan sebaiknya jadi orang pertama yang tahu, dan sampaikan secara tatap muka atau video call, bukan lewat chat. Pilih waktu yang tenang, misalnya awal minggu setelah rapat selesai. Gunakan kalimat yang singkat, jujur, dan sopan:
"Pak/Bu, terima kasih atas bimbingan selama ini. Saya ingin menyampaikan bahwa saya memutuskan untuk resign karena mendapat kesempatan lain untuk mengembangkan karier. Saya akan memastikan pekerjaan saya diserahterimakan dengan baik."
Tidak perlu menjelaskan detail gaji atau menjelek-jelekkan perusahaan. Cukup alasan yang positif dan ringkas.
2. Kirim surat pengunduran diri resmi
Setelah bicara, serahkan surat tertulis ke atasan dan HRD. Surat ini jadi bukti administratif, jadi pastikan tanggal dan tanda tangannya jelas.
3. Susun handover yang rapi
Ini bagian yang paling dihargai atasan. Buat dokumen berisi:
- Daftar tugas rutin dan jadwalnya
- Status proyek yang sedang berjalan
- Lokasi file, akun, dan kontak penting (sesuai kebijakan keamanan perusahaan)
- Kendala yang pernah muncul beserta solusinya
Kalau memungkinkan, latih penggantimu atau rekan yang akan mengambil alih tugasmu.
Contoh Surat Pengunduran Diri Singkat
Berikut contoh yang bisa kamu sesuaikan:
Jakarta, 5 Maret 2026 Kepada Yth. Bapak/Ibu [Nama Atasan] [Nama Perusahaan] Dengan hormat, Melalui surat ini, saya [Nama Lengkap], jabatan [Posisi], bermaksud mengajukan pengunduran diri dari PT [Nama Perusahaan], dengan hari kerja terakhir pada [tanggal]. Terima kasih atas kesempatan, bimbingan, dan pengalaman berharga selama saya bekerja di sini. Saya akan menyelesaikan seluruh tanggung jawab dan serah terima pekerjaan hingga hari terakhir. Hormat saya, [Nama & Tanda Tangan]
Singkat, sopan, dan jelas. Tidak perlu panjang.
Menghadapi Counter Offer dan Exit Interview
Bisa jadi atasan menawarkan kenaikan gaji atau jabatan supaya kamu bertahan. Sebelum tergoda, tanyakan pada dirimu: apa alasan awal aku ingin pergi? Kalau alasannya soal budaya kerja, beban kerja, atau jenjang karier, kenaikan gaji saja biasanya tidak menyelesaikan masalah. Tolak dengan halus dan tetap berterima kasih.
Saat exit interview dengan HRD, jujurlah tapi konstruktif. Beri masukan yang membangun, bukan curhat penuh emosi. Misalnya: "Proses onboarding bisa dibuat lebih terstruktur" lebih baik daripada "Manajemennya berantakan".
Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Resign
Banyak orang sudah punya alasan kuat, tapi gagal di cara berpamitnya. Hindari hal berikut:
- Resign mendadak lewat WhatsApp lalu menghilang.
- Menjelekkan atasan atau perusahaan di grup kantor, media sosial, atau saat interview di tempat baru.
- Menurunkan kualitas kerja selama masa notice karena merasa "toh sebentar lagi pergi".
- Membawa data perusahaan seperti database klien atau dokumen internal. Ini bisa berujung masalah hukum.
- Lupa menyimpan portofolio yang boleh dibagikan dan kontak rekan penting sebelum akses akunmu ditutup.
Ingat, cara resign yang baik adalah tentang menjaga hubungan, bukan sekadar menyelesaikan administrasi.
Setelah Resign: Perbarui CV dan Profilmu
Selama masa notice, manfaatkan waktu untuk merapikan dokumen kariermu. Catat pencapaian di pekerjaan lama selagi masih segar di ingatan, misalnya target yang tercapai, proyek yang kamu pimpin, atau skill baru yang kamu pelajari. Lalu masukkan ke CV dan profil LinkedIn-mu.
Kalau belum punya CV yang rapi dan ramah ATS, kamu bisa memakai KerjaCV untuk menyusunnya dengan template yang mudah dibaca sistem rekrutmen. Dengan begitu, kamu siap kapan pun peluang berikutnya datang.
Pada akhirnya, resign bukan akhir hubungan, melainkan pergantian bab. Jika kamu menerapkan cara resign yang baik, kamu pergi dengan kepala tegak dan meninggalkan kesan profesional.
Siap melangkah ke pekerjaan berikutnya? Buat CV ATS gratis di KerjaCV dan tampil percaya diri di lamaran barumu.